Feldgrau mencoba mendekat. Ia datang dari ujung untuk merapat mencium serbuk Cendana. Dengan pesiar mewah yang menggaris isi benua. Ohya, ia seorang buta. Yang mampu memanipulasi kebohongan, yang lihai berpicik dalam kegelisahan. Dunianya begitu berjarak, hingga mungkin si pantai tak menjamahnya. Selaput-selaput langitlah yang mengadakannya.
Satu waktu aku berpikir, diakah yang kan memimpin? Sebuah pura yang berkerudung simfoni, berlukis asa yang haus kedamaian. Ia datang untuk itu? Ketika setiap penjuru hanyalah atheis dan ketika angan mereka hanyalah formalitas. Sempurnalah.
Ada kalanya ia berbincang pelan menanyai keadaan. Waktu itu aku ada di sana, dan bertanyalah aku, “Engkaukah si abu yang terbakar hingga kesini?”
“Bukan.”
“Lantas? Apa kau yang lain itu?”
“Ya. Akulah pilihan ketika jari dan rahimmu telah terpangkas rapi.”



0 comments:
Posting Komentar